Archive | Jalan-jalan RSS for this section

Offroad Pemanasan di Kawasan Bandung Utara

Lama menunggu musim hujan yang tak kunjung selesai, Sabtu di awal Pebruari 2012 lalu saya mendapat tawaran dari kawan lama untuk menjajal kembali trek offroad kawasan Bandung Utara tepatnya kawasan Sukawana, Lembang.

Pagi pukul 07.30 setelah bersiap-siap kami bertemu di rumah kawan di daerah Cihanjuang. Selepas sarapan kami pun meluncur ke kawasan Kolonel Masturi Lembang. Setelah memastikan seluruh group siap, perjalanan dilanjutkan.

Trek kawasan Sukawana ini merupakan kawasan hutan lindung yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan alam seperti hiking, outbond, adventure (jip, sepeda MTB dan motor trail). Kawasan ini cukup sejuk dan terjaga karena ditumbuhi hutan dan semak yang cukup basah. Kemudahan akses yang dekat dari berbagai kota (Bandung, Cimahi dan Bandung Barat) menjadi magnet tersendiri kawasan ini.

Perjalanan diawali dari kawasan perumahan yang berjalan batu atau makadam, goyangan suspensi belakang yang cukup mumpuni tentu dapat membantu kemudahan handling dan traksi. Tanjakan dapat dengan mudah dilalui dengan teknik berkendara sambil berdiri sambil paha menjepit tangki.

Kami tidak memperkirakan hari itu ternyata panas cukup terik menerpa kulit dan tubuh kami. Persediaan air minum yang kami bawa ternyata cukup kritis sehingga semua rekans menghemat air. Di sela-sela rimbunnya hutan akhirnya tim memutuskan istirahat.

Bekal mulai kami habiskan satu persatu.

Setelah melepas lelah, kami melanjutkan perjalanan. Single trek yang masih berlumpur cukup dalam dan licin menguras tenaga kami. Beruntung seluruh tim tidak menggunakan motor yang berat sehingga setiap anggota dapat menguasai kendaraannya dengan mudah. Maksud saya jika jatuh angkat sendiri!!

Jalan yang berlumpur tebal ternyata membuat salah satu motor 4 tak yang kami kendarai tidak bisa memberikan akselerasi yang semestinya. Kami sudah memperkirakan bahwa kendala ini terjadi karena kampas kopling yang sudah aus. Beruntung kami membawa anggota tim yang memang mumpuni dalam perbaikan mesin. Dalam waktu yang kurang dari 1 jam bengkel dadakan kita buka di hutan Sukawana…..

Sementara perbaikan di lakukan, rekans yang lain kembali melepas lelah sambil berdiskusi untuk trek selanjutnya.

Tak sampai 2 jam perjalanan kami menuju TUGU yang dibangun oleh Sespim Polri di salah satu puncak bukit di kawasan Sukawana. Diselingi rintik hujan kami bersama mengambil foto. Sayang rasanya melewatkan spot nan Indah dan Kami sangat bersyukur karena Allah SWT memberikan anugrah alam yang luar biaya kepada Indonesia.

Hujan ternyata semakin lebat, sehingga kami memutuskan kembali lagi turun kebawah dan mengambil jalur lain untuk kembali pulang. Di tengah suasana yang cukup dingin dan kabut yang sudah mulai turun (sedikit gelap) – kami bergegas turun dengan penuh kehati-hatian karena jalan sudah sangat rusak.

Pas Azan Magrib, sesuai dengan rencana semua anggota sudah sampai di rumah masing-masih.

Bravo Adventure….!!

Wisata Petualangan Bawah Laut ala Richard Branson

Ada-ada saja ide gila yang terbayang dalam benak Sir Richard Branson. Kita pasti sudah tahu bahwa ide atau rencana Richard dalam membuat sebuah sarana wisata mewah ke tempat yang benar-benar baru khusus untuk orang super kaya di dunia ini. Kali ini Richard menciptakan sebuah wahana baru untuk menaklukkan dunia bawah laut. Sebelumnya Richard sudah menciptakan sebuah pesawat ruang angkasa yang dinamakan Virgin Galactic Commercial Spacecraft.

Apa yang dilakukan? Milyarder kelas dunia ini menciptakan sebuah kendaraan selam bawah laut yang memiliki 1 tempat duduk seharga 17 milyar dolar untuk mencapai bawah laut. Tahap awal kapal ini akan mencoba penyelaman di kedalaman 36.200 kaki di bawah permukaan laut. Sebutannya adalah VIRGIN OCEANIC.

Kapal selam berukuran panjang kurang lebih 5.38 meter ini didisain oleh seorang spesialis pencipta kapal selam Graham Hawkes.

HIngga saat ini, sudah 250 orang yang mendaftar dan membeli tiket untuk eksplorasi laut dalam. Richard sangat optimis bahwa ini adalah peluang bisnis yang sangat menjanjikan. “Great Business can come from great challenge”, demikian ungkapan manusia yang kerap disangka gila ini.

Beberapa target wisata dengan kapal selam ini sudah dipublikasikan, diantaranya : Mariana Trench (Samudra Pasifik), Puerto Rico Trench (Samudra Atlantik), South Sandwich Trench (Southern Ocean), the Diamantina Trench (Samudra Hindia) dan the Molloy Deep (Laut Artic).

Dari spesifikasinya, kapal selam ini bisa menjelajah dengan kecepatan maksimum 3 knot dan bisa menyelam dengan kecepatan selam 350 feet permenit. Dengan perhitungan ini, Virgin Oceanic bisa mencapai dasar marina trench dan kembali ke permukaan dalam waktu 5 jam saja. Penyelaman tahap pertama ini adalah untuk membuktikan bahwa kapal selam ini mampu bertahan pada tekanan yang ekstrim di dasar laut dan aman dikendarai oleh manusia. Dalam 2 tahun ke depan, Richard sudah menjadwalkan target-target wisata yang akan ditempuh.

Melihat perilaku orang kaya yang haus publikasi, Richard bekerja sama dengan Google Earth, dimana setiap ekspedisi yang dilakukan akan selalu terdokumentasi dalam situs Google.

 “If someone says something is impossible, we like to prove it’s possible. I love learning and I’m just very fortunate to participate in these kinds of adventures,” ungkap Richard Branson saat ditanya wartawan.

Spesifikasi VIRGIN OCEANIC :

Body : terbuat dari bahan carbon fibred an titanium ringan yang tahan terhadap tekanan ekstrim bawah laut.

Kaca depan (wind screen) : tahan terhadap tekanan sebesar 6.500 ton (3x lebih kuat dari pesawat ruang angkasa)

Sayap : tidak seperti kapal selam lain, sayap dapat membantu memudahkan kegiatan penyelaman sampai sedalam 10km.

Crew : 1 orang

Kedalaman jelajah : maksimum 11.3 km

Durasi jelajah : 24 jam

Kecepatan jelajah maksimum : 3 knot

Kecepatan jelajah : 2.2 knot

Ukuran/ Berat : 5.38 m x 3.83 m x 1.7 m/ 3.63 ton

SUKAWANA (1st Edition) – 27 Maret 2010

Jelang pukul 05.30 sesuai dengan kesepakatan 4 orang member Laskar Cimahi (EJ, HA, Sampras dan Mas Pras) telah kumpul di mulut komplek Pondok Mutiara. Dengan semangat 2010 kami menyusuri jalan Pesantren, Gumil, Sariwangi menuju kediaman Ustad eh…Mas Anung Asmoro.

Di komplek Graha Lista harapan kami pupus, karena ternyata tidak ada hidangan penghangat tubuh (hiks…); keringat kami di tanjakan-tanjakan awal hanya terhapus oleh bekal minum yang kami bawa sendiri…he he he…

Ikhwal menunggu rekans KPBS (Kelompok Penggowes Bandung Selatan) ternyata berubah di luar rencana….waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 rekans KPBS (RI dan Mas HH) sudah menunggu lewat jalan tembus dari Gegerkalong Tonggoh…ditemani sang Ustad dan juga sekaligus motivator unggul, Mas Amri.

Ragam tanjakan kami lewati dari arah Jl. Sariwangi menuju simpang the Peak. Saya dan rekans laskar Cimahi yang tidak pernah sekalipun melewati jalur ini terpaksa merelakan untuk ditinggal oleh anggota lain yang ternyata memiliki ayunan dengkul dan napas yang luar biasa. Dengan alasan mengambil beberapa foto (biar nggak dibilang loyo); dengan penuh kepastian kami bisa juga sampai di check point 1 gerbang the Peak.

Setelah mengambil beberapa gambar, keputusan untuk makan Tahu ternyata berubah. Bukan apa-apa, karena disana telah ada rombongan “the have” yang sudah kumpul dengan sepeda-sepeda MTB yang waw….(berkelas…!!!) – Tim memutuskan untuk lanjut mencari warung makan di seputaran Kol. Masturi. Alhamdulillah kami akhirnya makan dengan lahap lengkap dengan lauk khas Sunda (ayam, tahu, sayuran, dan sambalnya yang moooiiii…). Oh ya..kami juga ditemani oleh Pak Rachmat Surya Pati yang kebetulan mau turun pulang…tapi batal karena melihat rombongan kami.

Setelah menikmati hidangan sarapan dengan nasi panas…kami yang awalnya sepakat untuk menyeberang menuju gerbang perkebunan teh Sukawana tergugah untuk mengikuti saran Mas Amri…”wah..jalan ke kebun Teh Sukawana lewat situ jauh…mending lewat Vila Istana Bunga…disana jalannya lebih dekat….”

Setelah saweran untuk membayar sarapan tersebut, kami menggowes sepeda ke arah Vila Istana Bunga. Disini kok nggak ada turunan ya? Semua jalanan nanjak…Dengan berbagai teknik (goyang kanan, goyang kiri, teriak bacaaangg…….) akhirnya kami sampai di ujung Vila ini….menuju single track…

Mas Amri sebagai leader tim dan juga motivator, senantiasa menantang kami untuk tetap semangat dan tentu saja tetap gowes tanpa jatuh. “Hayo….kalian pasti bisa lewat jalan ini…lha Aku nanti akan tunggu kalian di atas…tidak boleh jatuh ya…” Kami selalu diberi motivasi untuk tetap bisa lewat jalanan setapak yang kualitas jalannya….hmm….asyik banget..!!! Kalau kaki jatuh harap mengulangi lagi ya…?? kami sempat terdiam…Tapi contoh yang diberikan Mas Amri memang demikian. Beliau mencoba, kaki terjatuh….dan balik lagi untuk mencoba…

Jatuh, meringis, tersenyum dan tertawa membuat perjalanan ini terasa makin menyenangkan. Disaat persediaan minum kami sudah menipis, mas Amri mengatakan bahwa “tanjakan sudah tidak ada lagi…paling ada tanjakan lucu di depan…Ada warung terakhir kok…!! Kami tetap tertawa sambil menikmati sejuknya udara pegunungan dan tawa riang siswa SD yang menyapa kami.

Pegalnya persendian, keringnya kerongkongan dan sisa tenaga kami pulihkan di warung tepat di depan pengolahan Teh Sukawana. Sambil minum teh panas, beberapa ada yang menggosok kakinya dengan pengurang rasa sakit, makan roti dan bercengkrama. Tenaga sudah terkumpul…siap untuk berangkat!!

Ternyata janji tanjakan bahwa sudah tidak ada lagi hanya janji….kami dihadapkan dengan beberapa tanjakan (yang landai) dan bersiap untuk masuk kembali ke single track. “Lewat kiri ya…disana jalannya lebih enak..bisa cepat masuk jalur kebun teh..” demikian teriakan yang diucapkan oleh mas Amri. Kami sangat menikmati jalur ini….Satu persatu kami menyusuri jalan sempit di antara rimbunan pohon teh. Jalan tanah, turun naik dan datar kami lewati bersama dengan penuh keceriaan. ”Hayo…kita coba tanjakan ini ya….Semua ikuti saya…jangan sampai turun kakinya..” Demikian sang Ustad memberikan semangat kepada kami untuk mencoba tanjakan panjang ini….Satu persatu kami mencoba…tak ada yang berhasil…!!!

Akhirnya kami berhenti di sebuah saung di tengah kebun teh. Mas Amri tengah asyik bercengkrama dengan beberapa Siswa SD Cihideung dengan akrabnya. Setelah mengambil beberapa foto kami melanjutkan perjalanan menuju Curug Putri Layung…

Entah sengaja atau tidak, kami mengikuti trek yang disuguhkan oleh Mas Amri. Trek ini sepertinya aneh…Dengan alasan ada jalur yang pendek, kami mengikuti petunjuk yang diberikan. Mulai masuk ke padang ilalang, lewat areal jalan setapak yang sangat sempit sampai memanggul sepeda akhirnya kami lakoni. Eh..setelah sampai di atas kok kami melihat jalan yang lebih bagus??? Dengan santainya mas Amri menjawab…”Kapan lagi kita bisa lewat jalan ini?? Kamipun terhenyak dan selanjutnya tersenyum….Dalam hati saya menjawab ”terserah deh!!!”

Perjalanan kami lanjutkan setelah mengobati mas AA yang ternyata tangannya tergores ranting dan terluka. Wah..air sudah menipis nih….jalan selanjutnya adalah tanjakan berupa jalanan berbatu (makadam) yang belum jelas ujungnya dimana…Dengan santai mas Amri selalu bertanya kepada petani teh yang lewat..”Mas jalan ke Curug Putri Layung kemana?” dan selalu dijawab dengan bahasa Sunda. Entah beliau mengerti atau tidak kok kami merasa seperti melewati jalan yang semakin aneh??? Turunan ekstrim yang tidak mungkin kami lewati dengan gowes terpaksa kami lewati dengan memanggul sepeda…

Apa salah bunda mengandung? Setelah susah payah kami menuruni lembah yang sempit..eh ternyata di samping kami ada jalan (trek) yang lebih bersahabat. Dengan santai mas Amri menjawab ”lha siapa yang suruh percaya saya? Lha goggle aja nggak bisa dipercaya??? Halah….istilah apa lagi ini….

Selanjutnya kami menikmati jalan yang sangat teduh…melewati beberapa jalur pipa air milik Advent..semak belukar. Setelah beberapa turunan (yang harus memanggul sepeda) akhirnya kami sampai juga di air terjun (curug) Putri Layung.

Dengan santai Mas Amri mencontohkan kepada kami teknik memanggul sepeda melewati sungai di depan kami. Sejenak sang Ustad berfoto dengan latar belakang air terjun. Indah sekali pengalaman ini. Kami pun bergegas mengikuti jejak Mas Amri untuk duduk santai di hamparan batu tepat di tengah curug. Beberapa rekans yang membawa pakaian ganti tidak sabar untuk berenang menikmati air yang dingin dan sejuk ini.

Setelah cukup melepas lelah ditemani dengan aroma ikan panggang yang dimasak oleh sekelompok anak muda yang sedang traking kami semua melewati curug dan dengan teknik memanggul sepeda seadanya kami naik ke atas bukit untuk kembali gowes menuju kawasan Komando (latihan Kopassus)

Disini kami sempat bertemu dengan ”petugas” yang kemudian melarang kami untuk masuk ke kawasan itu. Dengan alasan kami adalah tamu Ustad ”Amri” dari DT akhirnya kami bisa diperbolehkan melewati kawasan ini.

Dengan santai mas Amri kembali naik mencari mesjid AA Gym yang berada lebih di atas lagi. Teman-teman yang sudah mulai kepayahan karena kehabisan stok air minum dan perut yang sudah mulai lapar menolak jalur yang dilewati mas Amri. Beberapa berkata ”Udah ah…sekarang kita yang ngerjain Mas Amri” – ”Kita tinggal aja turun ke bawah..nanti ketemu di warung bawah aja”..he he he…

Dengan semangat 45 dan di depan kami terhampar jalan turunan nan aduhai (makadam) kami turun dengan kecepatan yang penuh…Untuk sepeda yang memiliki suspensi tentu ini adalah jalur yang aduhai…tapi untuk sepeda yang rigid…hmm ini adalah penyiksaan…

Turunan demi turunan kami lewati. Hingga akhirnya kami berhenti di bibir pintu masuk Komando (Jl Kol Masturi) untuk berhenti di sebuah warung…Kenikmatan makan siang!!

Pada saat kami tengah makan, sang Ustad tiba dengan berkata ”Lha, kenapa kalian nggak mengikuti aku? Kan aku sudah menyiapkan makan siang disana? He he he…udah deh Mas..kita makan aja disini…

Makan dengan menu sederhana tetap kami nikmati…Sambil bercengkrama tak terasa kami menyudahi makanan di warung ini dengan…..saweran lagi…!!

Kemudian kami melaksanakan shalat Zuhur di sebuah mushalla tepat di depan warung makan. ”Kelihatan nih muka2 yang jarang shalat” demikian ustad Amri mengingatkan kami. Jelas sekali makna yang terkandung dalam ucapan beliau…he he he…

Di ujung persimpangan ini kami berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing. Saya dengan 3 anggota lain Laskar Cimahi sepakat untuk turun kembali menyusuri jalanan Kol Masturi. Menikmati jalan aspal mulus yang turun memacu adrenalin saya untuk mencoba mencapai kecepatan puncak. Alhasil saya berhasil mencapai kecepatan 67km/jam!!

Sayang tak dapat diraih..rekan saya mas HA ternyata terjatuh menghantam lobang karena menghindari sebuah angkutan umum. Kami bertiga yang menunggu cukup lama di persimpangan Citereup tidak bisa menghubungi mas HA. Dengan berasumsi bahwa mungkin Mas HA mengambil jalur alternatif kami memutuskan untuk kembali menuju pulang. Di depan rumah saya menunggu mas HA…setelah beberapa saat saya bertemu dengan Mas HA dan mendapatkan informasi bahwa beliau jatuh di perjalanan pulang. Namun setelah konfirmasi bahwa mas HA dalam kondisi baik, saya mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT bahwa semua tim kembali ke rumah dengan selamat.

Demikian sekilas laporan perjalanan Gowes Sukawana Edisi 1.0.

Kami bertekad akan mencoba jalur ini lagi….(turun apa naik ya???)

Salam, EJ-2010 (United Patrol 2009)

Warung Bandrek 1.0

Detik saat saya menerima milis SMS (Flexi Milis) membuat tangan saya gatal. Soalnya obyek yang didiskusikan adalah rencana untuk gowes sepeda menuju Warung Bandrek di minggu pagi. Alhasil saya komen untuk ikut serta dalam rombongan ontel.com untuk ikut serta jalan-jalan menuju Warung Bandrek yang terkenal itu.

Apa sih warung bandrek? Dalam beberapa tahun terakhir ternyata Warung Bandrek yang lokasinya lebih kurang 7km di utara Simpang Dago merupakan daerah wajib kunjungan bagi penikmat sepeda di kawasan Bandung. Tiap akhir pekan, dipastikan banyak penikmat Sepeda (sepeda gunung, BMX bahkan sampai sepeda lipat) menaklukkan tanjakan-tanjakannya.

Tepat, pukul 06.30, saya dan wakil teman-teman Laskar Cimahi sudah kumpul di Gegerkalong Hilir 47…setelah melakukan ritual doa bersama dan foto bersama kami berangkat secara beriringan.

Pelan tapi pasti, masing-masing personil mengayuh sepedanya dari Gegerkalong menuju jalan setiabudi, menyusuri ujung cihampelas dan meluncur menuju jalan siliwangi. Raut kelelahan mulai tampak saat jalan menanjak menuju Dago Bengkok.

Panorama yang indah…hawa yang sejuk dan tanjakan menuju Dago Pakar terus terang menantang tim untuk bisa menaklukkannya…..Awal tanjakan salah satu member team merasa kurang enak….(kurang ekstrim) sehingga memutuskan untuk memilih minum bandrek di Dago Bengkok…. Di tengah perjalanan entah karena ingin istirahat karena dengkul nggak kuat….atau ingin melihat sepeda mahal berseliweran…seluruh anggota team duduk termenung di depan rumah mewah…meluruskan kaki dan minum air…sambil foto-foto juga…

Tertantang oleh Bapak tua (sudah ubanan) yang lewat di depan kami, akhirnya tim sepakat untuk kembali nanjak…eh…makin lama kok tanjakan makin nggak rasional ya? (nanjak banget gitu loh…). Apa yang salah ya…? kok makin nggak kuat nanjak nih? Salah sepeda? Salah karena kemaren ikut tanding futsal? Salah jalannya??

Alhasil kami menemukan warung bandrek di pinggir hutan pinus (bukan the real Warban) – sambil beristirahat melepas lelah….makan pisang…makan gorengan…minum bandrek…loh kok malah makan berat…Untung di warung ini juga banyak pesepeda yang istirahat….

Dalam waktu singkat saya dan beberapa teman menerima SMS rombongan yang sudah sampai di the real Warban…..”Kenapa kalian belum sampai di atas? Udah tobat ya?….” Terus terang isi SMS ini membuat kami tertantang… Terbayang di hadapan sudah tersedia tanjakan ”harja” alias ”h*r*m j*d*h”…..Pelan tapi pasti dengan teknik TTB (Tun-Tun Bike) kami sampai juga di Warung Bandrek milik Teh Erna….

Sambil minum2 dan menikmati hembusan angin pegunungan, kami mengabadikan foto bersama dengan seluruh team yang sudah sampai di Warban…

Puas berfoto2 akhirnya kami turun kembali ke jalur semula dengan kecepatan yang aduhai……

Semoga di edisi Warung Bandrek 2.0….3.0…tidak ada lagi TTB….

ETIKA TOURING

Tingginya peminat  dan penggiat kegiatan motoadventure atau umum dikenal dengan touring adventure pada akhirnya membuat sebuah kesadaran untuk melakukan sebuah proses sosialisasi akan etika dalam melakukan kegiatan ini. Terlepas dari permasalahan pribadi, menolak atau mengiayakan, paling tidak beberapa hal dibawah ini dapat menjadi dasar dari pengembangan etika kegiatan motoadventure bagi setiap pelakunya.

Beberapa hal penting tersebut adalah:

1. KENDARAAN

  • Gunakan kendaraan yang didesain sedemikian rupa sehingga mampu melalui rintangan yang ditemukan selama perjalanan (tidak diperkenankan mengendarai kendaraan yang ceper atau modifikasi ekstrim)
  • Kendaraan dilengkapi dengan ban yang berkualitas baik
  • Kendaraan sebaiknya dilengkapi dengan lampu yang memadai
  • Kendaraan dilengkapi dengan alat penarik di bagian depan, yang biasanya terbuat dari webbing (antisipasi mogok)

2. PAKAIAN

  • Gunakan pakaian yang mampu menyerap keringat, celana panjang serta serta kemeja panjang.
  • Gunakan pelindung, seperti: Pelindung Siku (Elbow Protector), Pelindung Lutut (Knee Protector), Pelindung hidung/mulut (balaklava/ masker), Pelindung Dada (Chest Protector), Sarung Tangan, Helm, Sepatu yang menutup mata kaki dan Pelindung mata (Google). Sekaligus mantel (setelan jas hujan – bukan Ponco) wajib dibawa karena akhir2 ini sering turun hujan.

3. PERALATAN

Peralatan dan sparepart kendaraan ditentukan dari kondisi kendaraan yang digunakan dan kondisi jalur yang akan dilalui. Adapun beberapa peralatan tersebut antara lain adalah:

  • Peralatan dan Sparepart untuk perbaikan kendaraan, minimal adalah: Tang, Obeng, Kunci-kunci (8, 10, 12, 14), Kunci Inggris kecil, Busi, Sambungan Rantai, Kabel Gas dan kopling, Selotip Listrik dan Ban Dalam cadangan untuk Anda yang menggunakan velg dan ban berukuran lebar.
  • Peralatan Pertolongan Pertama dan Rescue seperti : Webbing, straps, Obat-obatan dan P3K

4. PERJALANAN

  • Lakukan perjalanan secara berkelompok (10-20 kendaraan)
  • Perjalanan dilakukan setelah sebelumnya merencanakan rute yang akan ditempuh
  • Perjalanan dilakukan dengan mengikuti jalur yang sudah tersedia

5. SELAMA PERJALANAN

  • Jangan menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi pada saat berada di kawasan perumahan/kampung,
  • Apabila memungkinkan, koordinasikan rute perjalanan dengan aparat atau penduduk desa setempat,
  • Pada medan-medan yang sulit, seperti:
    • Jalur licin (keramik) dan menanjak:
      • Kurangi tekanan angin ban untuk menambah luas bidang persentuhan ban dengan tanah
      • Gunakan ancang-ancang agar kendaraan tetap dapat bergerak maju,
      • Bantu pergerakan maju kendaraan dengan menggunakan kedua kaki.
      • Apabila sudah tidak memungkinkan, jangan dipaksa dengan menaikkan putaran mesin. Putaran mesin yang tinggi akan menyebabkan ban belakang berputar cepat dan pada akhirnya akan merusak jalur yang akan dilalui. Turunkan dari kendaraan. Dorong kendaraan sambil tetap menghidupkan mesin dan bantu dengan menggunakan putaran mesin yang rendah.
      • Apabila diperlukan, mintalah bantuan teman seperjalanan untuk menarik kendaraan dengan menggunakan webbing.
      • Jalur licin (keramik) dan menurun,
        • Pada jalur yang curam gunakan gigi rendah dan matikan mesin.
        • Bantu keseimbangan dengan menurunkan kaki,
        • Jaga kecepatan kendaraan agar tidak terlalu cepat dan tetap seimbang,
        • Upayakan untuk tidak membuat jalur baru yang akan merusak lingkungan sekitarnya.
        • Apabila diperlukan, mintalah bantuan teman seperjalanan untuk menahan kendaraan dengan menggunakan webbing.
    • Usahakan untuk tidak menghalangi jalur yang akan dilalui dengan berhenti pada posisi yang aman yaitu pada jalur yang cukup lebar dan parkirkan kendaraan di sisi jalur.
    • Dilarang membuang sampah termasuk puntung rokok di sembarang tempat.

Dihimpun dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi…..Kalau masih ada tambahan silahkan ya…Untuk memperkaya khasanah kita…

Salam Hangat. EJ

Arung Jeram – resiko dan tantangan

Kembali terjadi di Jawa Barat insiden arung jeram yang berujung pada tewasnya Dea Maruli Sabtu 4 April 2009 lalu. Setelah dicari selama kurang lebih 36 jam, Dea Maruli Damanik (22 tahun) seorang atlet putra kano polo Jawa Barat yang hilang akibat terbawa arus Sungai Citarum akhirnya ditemukan.sekitar 400 meter setelah jembatan lama Rajamandala atau 7 kilometer dari lokasi kejadian senin pagi 6/04/09 dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa lagi.

Prestasi yang diraih Dea cukup fantastis, seperti atlit Jawa Barat untuk PON 2008 Kaltim pada nomor kano polo dan juga atlit dayung Jawa Barat. Kejadian ini diawali ketika Dea berusaha untuk memberikan pertolongan rekannya yang terjatuh karena berlatih kayak. Keteledoran yang terjadi adalah pada saat memberikan pertolongan Dea berenang di arus yang deras tanpa pelampung dan helm. Pada saat kejadian mereka tersedot pusaran air yang sangat kuat sehingga tenggelam. Mari kita doakan agar Dea mendapat kelapangan disisi-Nya.

Sungai Citarum merupakan salah satu sungai yang cukup menantang untuk diarungi oleh setiap pencinta olah raga arung jeram, terlebih pada saat curah hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini. Sungai Citarum memiliki banyak putaran air dengan arus yang sangat kuat dan di beberapa bagian kadalamannya bisa lebih dari sepuluh meter. Bahkan tidak jarang jika seseorang terbawa arus tubuhnya akan ditemukan tiga hari kemudian.

Arung jeram merupakan salah satu olah raga ekstrim atau berbahaya. Oleh karena itu untuk mengurangi resiko bahaya, para rafter (sebutan untuk pengarum jeram) harus dilengkapi dengan peralatan keamanan standard diantaranya perahu karet (river boat), pelampung dari gabus yang tebal dan helm. Jika tidak dapat dipastikan dapat membahayakan rafter tersebut.

Yang tak kalah penting adalah kita harus mengetahui karakter sungai yang akan diarungi. Jika kita mengacu pada tingkatan sungai yang telah ditetapkan oleh International Scale Western, terdapat enam grade (tingkatan) arus sungai:

Grade I: adalah air datar dan tenang

Grade II: bergelombang kecil

Grade III: tingkat kesulitan jeram agak sedang sehingga memerlukan pengalaman yang cukup ditambah perlengkapan dan perahu yang memadai

Grade IV: sulit, ombak bergelombang tinggi dan tak beraturan, berbatu-batu, banyak pusaran air. Untuk mengarunginya dibutuhkan keahlian mengendalikan perahu

Grade V: sangat sulit, aliran sungai berjeram panjang dan berturut-turut serta berombak kuat, tak beraturan dan banyak batuan yang membahayakan. Selain itu terdapat pusaran air yang berbuih-buih yang membuat lintasan sulit untuk dicari. Diperlukan kendali yang tepat dan cepat. Diutamakan untuk awak perahu yang berpengalaman dan perlengkapan yang terbaik.

Grade VI: teramat sangat sulit. Bahkan sama sekali tak dapat dilalui.

Sungai citarum memiliki Grade III (jika 2 pintu bendungan dibuka) dan Grade IV (jika 4 pintu bendungan dibuka)

So…arung jeram merupakan olah raga yang ber-resiko. Namun jika kita memiliki tekad yang kuat, peralatan terbaik dan mengenal situasi tentu bisa menjadi tantangan dan sekaligus olah raga yang sehat.


Catatan Perjalanan: Pelantikan Anggota Baru VCB, Situ Cileunca

Hmmm…tak terlintas dalam benak saya yang sudah lebih dari 5 tahun tidak pernah lagi mengendarai mobil rakyat kendaraan buatan Jerman, Volkswagen… Adalah pelantikan anggota baru VCB yang membuat saya kembali dalam “dunia per-VWan”

Perjalanan dimulai kembali dari kawasan gegerkalong Bandung, untuk menjemput mobil VW Safari (VW Thing) tahun 1973 warna kuning (thanks to Mr.Toto atas supportnya) – tanpa ba-bi-bu saya langsung starter mobil ini…brrm…brrmmm…selang sejenak mobil menyala dengan mulus. Berbegas saya bersama kedua buah hati saya memindahkan barang dan makanan persiapan BOTRAM untuk acara pelantikan anggota baru VCB (Volkswagen Club Bandung) dan acara silaturahmi anggota di Situ Cileunca.

Minggu pagi yang cerah, walaupun terlambat saya menghubungi rekans pengurus VCB (Kang Ai) mengenai status keberangkatan…wah ternyata rombongan sudah meninggalkan base camp di Jl. Ambon 21..Dengan sigap saya memutar arah untuk bertemu rombongan di depan pintu tol buahbatu Bandung..

Teriakan gembira si sulung melihat rombongan VW yang terdiri dari bermacam tipe di jalan buahbatu menambah semangat saya untuk memacu mobil ini agar bisa masuk dalam jajaran “devile” rombongan ini.

Perjalanan selanjutnya diarahkan menuju kawasan Dayeuh Kolot dan Banjaran. Belum habis rasa kesenangan ini bertemu dengan “komunitas” VW Bandung, saya ditantang untuk melewati kemacetan yang luar biasa di depan pasar Banjaran. Simpang siurnya para pengguna jalan (dominan angkot dan sepeda motor) membuat suasana lalu lintas menjadi tak karuan. Udara yang mulai panas – hati juga ikut-ikutan panas….mobil juga tambah panas (karena tentu tidak ada AC). Alhasil setelah sekira 15 menit terjebak dalam kemacetan yang luar biasa rombongan bisa keluar dan kembali jalan menuju kawasan pangalengan.

Tim berhenti sejenak lepas dari Jl. Raya Banjaran untuk ”re-grouping” atau menunggu tim yang kemungkinan mengalami kesulitan sepanjang perjalanan. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Rombongan kemudian bergerak menyusuri liukan jalan menuju pangalengan. Tikungan demi tikungan, tanjakan demi tanjakan yang disuguhi oleh pemandangan yang luar biasa dan cuaca yang sejuk membuat saya bergairah mengemudikan VW Safari kuning ini.

Jam 11.30 saya dan anak2 sudah tiba di Situ Cileunca. Sambutan rekans pencinta VW membuat suasana menjadi akrab dan penuh suka cita. Satu-demi satu mobil kami parkir dengan rapi. Tak berapa lama kemudian, seluruh calon anggota baru dikumpulkan untuk didata administrasinya. Begitu juga dengan panitia dan anggota lama juga sibuk dengan persiapan untuk acara pelantikan.

Acara pertama adalah briefing peserta yang disampaikan oleh Ketua Umum VCB, Sdr. Denny F Kusumah. Acara selanjutnya adalah aktifitas “flying fox”. Kali ini tentu saja berbeda. Meluncur dari atas pohon sambil melintasi danau tentunya…Ajang uji mental ini dapat dilalui dengan mudah oleh seluruh peserta. Beberapa kejutan seperti teriakan, peserta yang jumpalitan untuk menghindari air sampai yang basah kami temui disana.

Acara ketiga yang sangat dinantikan adalah silaturahmi Botram (piknik bersama) antara sesama anggota. Setiap anggota diwajibkan membawa makanan dan minuman dan dimakan bersama lesehan di hamparan rumput Situ Cileunca. Ditemani hujan yang turun dengan rintik-rintik tak terasa membuat suasana botram menjadi lebih hikmat. Botram merupakan agenda rutin anggota VCB setiap 2 bulan sekali.

Setelah melepas penat dan shalat Zuhur, acara selanjutnya adalah menyimak Siraman Rohani yang disampaikan oleh Pak Kyai di aula. Sambil lesehan seluruh peserta menyimak dengan tenang siraman rohani yang disampaikan oleh Pak Kiyai. Wejangan demi wejangan pentingnya silaturahmi meresap dalam nurani seluruh anggota.

Selanjutnya, ditemani cuaca yang sedikit panas seluruh calon anggota ditantang untuk mengikuti games tradisi VCB yaitu melakukan setting mesin VW dan bongkar pasang VW (kali ini roda VW Kodok Kang Agus yang menjadi obyeknya!) – tentu saja dengan sedikit bumbu yaitu “banjuran” oli di tangan peserta, he he he…Dengan tekun dan rasa penasaran seluruh calon anggota bisa menyelesaikan tantangan ini.

Dengan semangat yang tinggi, selanjutnya calon anggota “ditasbihkan” untuk mengikuti tantangan terakhir yaitu “ngolong kombi”. 3 unit VW Kombi menjadi saksi pelantikan hari ini. Rasa sakit merayap di kolong VW Kombi hilang setelah di ujung seluruh pengurus dan anggota lama memberikan selamat atas keberhasilan menjalani ritual anggota VCB. Tak lupa seluruh anggota diberikan hadiah “baju VCB”.

Acara terakhir adalah foto bersama. Seluruh anggota baru dan anggota lama beserta keluarga tentunya melakukan sessi foto bersama tepat dibelakang poster besar VCB. Setelah bersalam-salaman dan mendapat wejangan dari sesepuh VCB, Bp Ila Toparta tim melakukan shalat Ashar dan bersiap menuju pulang ke Bandung. Kedua buah hatiku sangat gembira karena ini adalah Touring VW pertama mereka!!!

Tepat pukul 16.00 rombongan meninggalkan Situ Cileunca menuju Bandung. Viva VCB!!