SUKAWANA (1st Edition) – 27 Maret 2010

Jelang pukul 05.30 sesuai dengan kesepakatan 4 orang member Laskar Cimahi (EJ, HA, Sampras dan Mas Pras) telah kumpul di mulut komplek Pondok Mutiara. Dengan semangat 2010 kami menyusuri jalan Pesantren, Gumil, Sariwangi menuju kediaman Ustad eh…Mas Anung Asmoro.

Di komplek Graha Lista harapan kami pupus, karena ternyata tidak ada hidangan penghangat tubuh (hiks…); keringat kami di tanjakan-tanjakan awal hanya terhapus oleh bekal minum yang kami bawa sendiri…he he he…

Ikhwal menunggu rekans KPBS (Kelompok Penggowes Bandung Selatan) ternyata berubah di luar rencana….waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 rekans KPBS (RI dan Mas HH) sudah menunggu lewat jalan tembus dari Gegerkalong Tonggoh…ditemani sang Ustad dan juga sekaligus motivator unggul, Mas Amri.

Ragam tanjakan kami lewati dari arah Jl. Sariwangi menuju simpang the Peak. Saya dan rekans laskar Cimahi yang tidak pernah sekalipun melewati jalur ini terpaksa merelakan untuk ditinggal oleh anggota lain yang ternyata memiliki ayunan dengkul dan napas yang luar biasa. Dengan alasan mengambil beberapa foto (biar nggak dibilang loyo); dengan penuh kepastian kami bisa juga sampai di check point 1 gerbang the Peak.

Setelah mengambil beberapa gambar, keputusan untuk makan Tahu ternyata berubah. Bukan apa-apa, karena disana telah ada rombongan “the have” yang sudah kumpul dengan sepeda-sepeda MTB yang waw….(berkelas…!!!) – Tim memutuskan untuk lanjut mencari warung makan di seputaran Kol. Masturi. Alhamdulillah kami akhirnya makan dengan lahap lengkap dengan lauk khas Sunda (ayam, tahu, sayuran, dan sambalnya yang moooiiii…). Oh ya..kami juga ditemani oleh Pak Rachmat Surya Pati yang kebetulan mau turun pulang…tapi batal karena melihat rombongan kami.

Setelah menikmati hidangan sarapan dengan nasi panas…kami yang awalnya sepakat untuk menyeberang menuju gerbang perkebunan teh Sukawana tergugah untuk mengikuti saran Mas Amri…”wah..jalan ke kebun Teh Sukawana lewat situ jauh…mending lewat Vila Istana Bunga…disana jalannya lebih dekat….”

Setelah saweran untuk membayar sarapan tersebut, kami menggowes sepeda ke arah Vila Istana Bunga. Disini kok nggak ada turunan ya? Semua jalanan nanjak…Dengan berbagai teknik (goyang kanan, goyang kiri, teriak bacaaangg…….) akhirnya kami sampai di ujung Vila ini….menuju single track…

Mas Amri sebagai leader tim dan juga motivator, senantiasa menantang kami untuk tetap semangat dan tentu saja tetap gowes tanpa jatuh. “Hayo….kalian pasti bisa lewat jalan ini…lha Aku nanti akan tunggu kalian di atas…tidak boleh jatuh ya…” Kami selalu diberi motivasi untuk tetap bisa lewat jalanan setapak yang kualitas jalannya….hmm….asyik banget..!!! Kalau kaki jatuh harap mengulangi lagi ya…?? kami sempat terdiam…Tapi contoh yang diberikan Mas Amri memang demikian. Beliau mencoba, kaki terjatuh….dan balik lagi untuk mencoba…

Jatuh, meringis, tersenyum dan tertawa membuat perjalanan ini terasa makin menyenangkan. Disaat persediaan minum kami sudah menipis, mas Amri mengatakan bahwa “tanjakan sudah tidak ada lagi…paling ada tanjakan lucu di depan…Ada warung terakhir kok…!! Kami tetap tertawa sambil menikmati sejuknya udara pegunungan dan tawa riang siswa SD yang menyapa kami.

Pegalnya persendian, keringnya kerongkongan dan sisa tenaga kami pulihkan di warung tepat di depan pengolahan Teh Sukawana. Sambil minum teh panas, beberapa ada yang menggosok kakinya dengan pengurang rasa sakit, makan roti dan bercengkrama. Tenaga sudah terkumpul…siap untuk berangkat!!

Ternyata janji tanjakan bahwa sudah tidak ada lagi hanya janji….kami dihadapkan dengan beberapa tanjakan (yang landai) dan bersiap untuk masuk kembali ke single track. “Lewat kiri ya…disana jalannya lebih enak..bisa cepat masuk jalur kebun teh..” demikian teriakan yang diucapkan oleh mas Amri. Kami sangat menikmati jalur ini….Satu persatu kami menyusuri jalan sempit di antara rimbunan pohon teh. Jalan tanah, turun naik dan datar kami lewati bersama dengan penuh keceriaan. ”Hayo…kita coba tanjakan ini ya….Semua ikuti saya…jangan sampai turun kakinya..” Demikian sang Ustad memberikan semangat kepada kami untuk mencoba tanjakan panjang ini….Satu persatu kami mencoba…tak ada yang berhasil…!!!

Akhirnya kami berhenti di sebuah saung di tengah kebun teh. Mas Amri tengah asyik bercengkrama dengan beberapa Siswa SD Cihideung dengan akrabnya. Setelah mengambil beberapa foto kami melanjutkan perjalanan menuju Curug Putri Layung…

Entah sengaja atau tidak, kami mengikuti trek yang disuguhkan oleh Mas Amri. Trek ini sepertinya aneh…Dengan alasan ada jalur yang pendek, kami mengikuti petunjuk yang diberikan. Mulai masuk ke padang ilalang, lewat areal jalan setapak yang sangat sempit sampai memanggul sepeda akhirnya kami lakoni. Eh..setelah sampai di atas kok kami melihat jalan yang lebih bagus??? Dengan santainya mas Amri menjawab…”Kapan lagi kita bisa lewat jalan ini?? Kamipun terhenyak dan selanjutnya tersenyum….Dalam hati saya menjawab ”terserah deh!!!”

Perjalanan kami lanjutkan setelah mengobati mas AA yang ternyata tangannya tergores ranting dan terluka. Wah..air sudah menipis nih….jalan selanjutnya adalah tanjakan berupa jalanan berbatu (makadam) yang belum jelas ujungnya dimana…Dengan santai mas Amri selalu bertanya kepada petani teh yang lewat..”Mas jalan ke Curug Putri Layung kemana?” dan selalu dijawab dengan bahasa Sunda. Entah beliau mengerti atau tidak kok kami merasa seperti melewati jalan yang semakin aneh??? Turunan ekstrim yang tidak mungkin kami lewati dengan gowes terpaksa kami lewati dengan memanggul sepeda…

Apa salah bunda mengandung? Setelah susah payah kami menuruni lembah yang sempit..eh ternyata di samping kami ada jalan (trek) yang lebih bersahabat. Dengan santai mas Amri menjawab ”lha siapa yang suruh percaya saya? Lha goggle aja nggak bisa dipercaya??? Halah….istilah apa lagi ini….

Selanjutnya kami menikmati jalan yang sangat teduh…melewati beberapa jalur pipa air milik Advent..semak belukar. Setelah beberapa turunan (yang harus memanggul sepeda) akhirnya kami sampai juga di air terjun (curug) Putri Layung.

Dengan santai Mas Amri mencontohkan kepada kami teknik memanggul sepeda melewati sungai di depan kami. Sejenak sang Ustad berfoto dengan latar belakang air terjun. Indah sekali pengalaman ini. Kami pun bergegas mengikuti jejak Mas Amri untuk duduk santai di hamparan batu tepat di tengah curug. Beberapa rekans yang membawa pakaian ganti tidak sabar untuk berenang menikmati air yang dingin dan sejuk ini.

Setelah cukup melepas lelah ditemani dengan aroma ikan panggang yang dimasak oleh sekelompok anak muda yang sedang traking kami semua melewati curug dan dengan teknik memanggul sepeda seadanya kami naik ke atas bukit untuk kembali gowes menuju kawasan Komando (latihan Kopassus)

Disini kami sempat bertemu dengan ”petugas” yang kemudian melarang kami untuk masuk ke kawasan itu. Dengan alasan kami adalah tamu Ustad ”Amri” dari DT akhirnya kami bisa diperbolehkan melewati kawasan ini.

Dengan santai mas Amri kembali naik mencari mesjid AA Gym yang berada lebih di atas lagi. Teman-teman yang sudah mulai kepayahan karena kehabisan stok air minum dan perut yang sudah mulai lapar menolak jalur yang dilewati mas Amri. Beberapa berkata ”Udah ah…sekarang kita yang ngerjain Mas Amri” – ”Kita tinggal aja turun ke bawah..nanti ketemu di warung bawah aja”..he he he…

Dengan semangat 45 dan di depan kami terhampar jalan turunan nan aduhai (makadam) kami turun dengan kecepatan yang penuh…Untuk sepeda yang memiliki suspensi tentu ini adalah jalur yang aduhai…tapi untuk sepeda yang rigid…hmm ini adalah penyiksaan…

Turunan demi turunan kami lewati. Hingga akhirnya kami berhenti di bibir pintu masuk Komando (Jl Kol Masturi) untuk berhenti di sebuah warung…Kenikmatan makan siang!!

Pada saat kami tengah makan, sang Ustad tiba dengan berkata ”Lha, kenapa kalian nggak mengikuti aku? Kan aku sudah menyiapkan makan siang disana? He he he…udah deh Mas..kita makan aja disini…

Makan dengan menu sederhana tetap kami nikmati…Sambil bercengkrama tak terasa kami menyudahi makanan di warung ini dengan…..saweran lagi…!!

Kemudian kami melaksanakan shalat Zuhur di sebuah mushalla tepat di depan warung makan. ”Kelihatan nih muka2 yang jarang shalat” demikian ustad Amri mengingatkan kami. Jelas sekali makna yang terkandung dalam ucapan beliau…he he he…

Di ujung persimpangan ini kami berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing. Saya dengan 3 anggota lain Laskar Cimahi sepakat untuk turun kembali menyusuri jalanan Kol Masturi. Menikmati jalan aspal mulus yang turun memacu adrenalin saya untuk mencoba mencapai kecepatan puncak. Alhasil saya berhasil mencapai kecepatan 67km/jam!!

Sayang tak dapat diraih..rekan saya mas HA ternyata terjatuh menghantam lobang karena menghindari sebuah angkutan umum. Kami bertiga yang menunggu cukup lama di persimpangan Citereup tidak bisa menghubungi mas HA. Dengan berasumsi bahwa mungkin Mas HA mengambil jalur alternatif kami memutuskan untuk kembali menuju pulang. Di depan rumah saya menunggu mas HA…setelah beberapa saat saya bertemu dengan Mas HA dan mendapatkan informasi bahwa beliau jatuh di perjalanan pulang. Namun setelah konfirmasi bahwa mas HA dalam kondisi baik, saya mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT bahwa semua tim kembali ke rumah dengan selamat.

Demikian sekilas laporan perjalanan Gowes Sukawana Edisi 1.0.

Kami bertekad akan mencoba jalur ini lagi….(turun apa naik ya???)

Salam, EJ-2010 (United Patrol 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: