EBook Reader; impian atau kenyataan?

Rabu, 6 Mei 2009 yang lalu, CEO Amazon Jeff Bezos mempresentasikan sebuah E-Reader Kindle terbaru di Pace University, New York, AS. Produk ini dikenal dengan sebutan Kindle DX, yaitu sebuah media digital yang dapat digunakan baik oleh personal maupun professional untuk membaca berbagai dokumen, surat kabar, majalah, text book yang diyakini memiliki pasar yang sangat-sangat besar.

Beberapa keunggulan Kindle DX versi terbaru adalah:

  • Ukuran layar atau display sebesar 9.7 inchi dengan tampilan layar hitam putih (grayscale)
  • Tipis dan ringan
  • Kapasitas atau daya simpan dapat menampung 3.500 buku.
  • Dapat dilihat baik dengan tegak maupun mendatar (auto rotating)
  • Dilengkapi dengan aplikasi PDF Reader (built-in)
  • Didukung oleh koneksi 3G wireless
  • Kapasitas batere yang diyakini dapat bertahan lama (berhari-hari tanpa charging)
  • Kemampuan text-to-speech

Beberapa kekurangan Kindle DX:

  • Harga masih dianggap mahal (kenaikan dari Kindle 1.0 seharga US$ 359 ke Kindle 2.0 seharga US$ 489)
  • Tidak dilengkapi dengan fasilitas touch screen. Semua perintah disediakan oleh tombol-tombol (knob) di bawah layar
  • Web browser yang kurang friendly
  • Layar yang masih hitam putih (16 shades of gray); belum berwarna (true color 64K)
  • Paket bundling buku saat pembelian awal terbatas

Fitur-fitur di atas merupakan pengembangan dari versi sebelumnya. Dengan kemampuan tersebut, pembaca e-book tidak akan direpotkan lagi untuk memutar-mutar layar, menekan tombol zoom atau melakukan scrolling.

Amazon sadar bahwa pendidikan merupakan pangsa terbesar Kindle DX ini. Oleh karena itu Amazon berkolaborasi dengan penerbit buku seperti Pearson, Cengage Learning dan Wiley untuk menciptakan text book dalam format Kindle DX ini. Amazon bahkan juga sudah menjalin kerjasama dengan berbagai Perguruan Tinggi ternama di Amerika Serikat. Beberapa pilot program implementasi Kindle DX sudah dijalankan.

Mahasiswa sangat senang dengan Kindle DX karena untuk belajar, mereka tidak harus membawa berbagai buku dalam tas mereka. Dengan text book cara belajar dan mengajarpun menjadi lebih efisien dan efektif.

Banyak juga yang berpendapat bahwa dengan adanya Kindle DX, maka industri surat kabar/ media cetak berpotensi mengalami kerugian (saat ini saja beberapa industri media besar yang berusia ratusan tahun di Eropa dan Amerika Serikat sudah gulung tikar). Namun Amazon tak patah arang, berbagai kolaborasi dengan industri besar seperti The New York Times dan The Washington Post sudad dijalankan. Mungkin mereka sadar bahwa “digital media” merupakan bagian dari “digital society” yang saat ini mewabah di seantero jagad raya.

Fakta lain mengatakan bahwa beberapa kebiasaan manusia modern akan hilang. Seperti berjalan pagi-pagi untuk membeli koran, atau minum kopi sambil membaca koran atau menunggu loper koran yang mengirimkan di pagi hari tentu akan hlang..Semua bisa diperoleh dalam waktu kurang dari 60 detik!!

Satu setengah tahun yang lalu saat versi Kindle 1.0 pertama kali diluncurkan. Amazon sudah menyediakan 90.000 buku. Saat ini sudah melonjak menjadi 275.000 buku. Membaca berbagai buku…literatur…majalah.. dan koran hanya dengan satu media saja…Semoga menjadi kenyataan (di Indonesia!!)

Kindle DX dijual seharga US$ 489 dan saat ini Amazon sudah menyiapkan aplikasi untuk pemesanan (pre-order). Lihat di website www.amazon.com ya…

2 responses to “EBook Reader; impian atau kenyataan?”

  1. dsy says :

    waduuw sy pengen bgt niy gadget yg satu ini, asal dia bs baca pdf tanpa syarat (jgn2 cuma bs baca ebook donlotan dr amazon?)
    berhubung sy hobi bgt baca buku tebel2, teknologi e-ink Kindle dx ini menarik bgt, ktnya seperti baca dr kertas mata ga capek, ga seperti klo kita baca ebook dr layar laptop
    sy kurang tau apakah teknologi e-ink bs support color, pasti menarik seberapa jauh teknologi ini bs berkembang
    bg sy pribadi yg pernah kehilangan nyaris semua koleksi buku2 lawas krn banjir, praktis bgt klo punya ini, klo banjir datang ga perlu repot2 ngangkut2 nyelamatin koleksi buku2, cukup masukin Kindle ke tas, beres deeh😛

    • elfri says :

      cuma kadang masalah dibalik produksi perangkat ini lebih kental aspek bisnisnya….
      so pasti banyak dong pabrik percetakan jadi bangkrut….royalti penulis jadi lebih kecil (bahkan kalau bajakan marak malah nol besar)

      efek bisnis digital ya begini…???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: