Arung Jeram – resiko dan tantangan

Kembali terjadi di Jawa Barat insiden arung jeram yang berujung pada tewasnya Dea Maruli Sabtu 4 April 2009 lalu. Setelah dicari selama kurang lebih 36 jam, Dea Maruli Damanik (22 tahun) seorang atlet putra kano polo Jawa Barat yang hilang akibat terbawa arus Sungai Citarum akhirnya ditemukan.sekitar 400 meter setelah jembatan lama Rajamandala atau 7 kilometer dari lokasi kejadian senin pagi 6/04/09 dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa lagi.

Prestasi yang diraih Dea cukup fantastis, seperti atlit Jawa Barat untuk PON 2008 Kaltim pada nomor kano polo dan juga atlit dayung Jawa Barat. Kejadian ini diawali ketika Dea berusaha untuk memberikan pertolongan rekannya yang terjatuh karena berlatih kayak. Keteledoran yang terjadi adalah pada saat memberikan pertolongan Dea berenang di arus yang deras tanpa pelampung dan helm. Pada saat kejadian mereka tersedot pusaran air yang sangat kuat sehingga tenggelam. Mari kita doakan agar Dea mendapat kelapangan disisi-Nya.

Sungai Citarum merupakan salah satu sungai yang cukup menantang untuk diarungi oleh setiap pencinta olah raga arung jeram, terlebih pada saat curah hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini. Sungai Citarum memiliki banyak putaran air dengan arus yang sangat kuat dan di beberapa bagian kadalamannya bisa lebih dari sepuluh meter. Bahkan tidak jarang jika seseorang terbawa arus tubuhnya akan ditemukan tiga hari kemudian.

Arung jeram merupakan salah satu olah raga ekstrim atau berbahaya. Oleh karena itu untuk mengurangi resiko bahaya, para rafter (sebutan untuk pengarum jeram) harus dilengkapi dengan peralatan keamanan standard diantaranya perahu karet (river boat), pelampung dari gabus yang tebal dan helm. Jika tidak dapat dipastikan dapat membahayakan rafter tersebut.

Yang tak kalah penting adalah kita harus mengetahui karakter sungai yang akan diarungi. Jika kita mengacu pada tingkatan sungai yang telah ditetapkan oleh International Scale Western, terdapat enam grade (tingkatan) arus sungai:

Grade I: adalah air datar dan tenang

Grade II: bergelombang kecil

Grade III: tingkat kesulitan jeram agak sedang sehingga memerlukan pengalaman yang cukup ditambah perlengkapan dan perahu yang memadai

Grade IV: sulit, ombak bergelombang tinggi dan tak beraturan, berbatu-batu, banyak pusaran air. Untuk mengarunginya dibutuhkan keahlian mengendalikan perahu

Grade V: sangat sulit, aliran sungai berjeram panjang dan berturut-turut serta berombak kuat, tak beraturan dan banyak batuan yang membahayakan. Selain itu terdapat pusaran air yang berbuih-buih yang membuat lintasan sulit untuk dicari. Diperlukan kendali yang tepat dan cepat. Diutamakan untuk awak perahu yang berpengalaman dan perlengkapan yang terbaik.

Grade VI: teramat sangat sulit. Bahkan sama sekali tak dapat dilalui.

Sungai citarum memiliki Grade III (jika 2 pintu bendungan dibuka) dan Grade IV (jika 4 pintu bendungan dibuka)

So…arung jeram merupakan olah raga yang ber-resiko. Namun jika kita memiliki tekad yang kuat, peralatan terbaik dan mengenal situasi tentu bisa menjadi tantangan dan sekaligus olah raga yang sehat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: