Menantang Kawah Kamojang: Catatan Perjalanan

Ini adalah touring pertama tim kecil-ku dari Bandung.

Saya berempat dengan rekan sejawat, sebut saja Mas Hery, Uwak Jhonsis, dan Kang Rizki sepakat di akhir pekan untuk touring pertama kami. Setelah lelah dan penat bekerja seminggu penuh, kami pastikan untuk touring pertama ke Kawasan Kawah Kamojang minggu 10 Agustus 2008 yang lalu.

Tim berangkat pagi2 pukul 09.30 WIB dari kawasan gegerkalong Bandung.

Kenapa tim memilih Kamojang? Alasannya adalah daerah ini masih terhitung dekat dari Bandung. Dengan melewati Majalaya, kami hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit untuk sampai disana.

Kawah Kamojang terletak sekitar 1000m dari permukaan laut. Routenya boleh dibilang menantang dengan banyak tanjakan yang curam. Memang ada sih alternatif jalan yang lebih baik, yaitu lewat Samarang (Garut)

Lelah melewati jalur Majalaya nan padat, tanjakan yang bikin dag dig dug…tepat tengah hari kami tiba di kawasan Kamojang….setelah menunaikan kewajiban Shalat Zuhur kami duduk sejenak di warung. Wah dengan sentuhan lame kuning dan bandrek dan sedikit mie rebus pelepas lapar tak terasa kami nongkrong di warung sudah satu jam.

kamojang-01

Disamping kawasan yang masih asri dan alami, ada nilai plus dari Kawah Kamojang ini, yakni kita bisa menikmati uap atau air panas yang keluar dari sejumlah lubang kawah. Konon kabarnya selain menyembuhkan penyakit kulit, uap panas bumi Kamojang bisa mengobati berbagai penyakit seperti rematik dan darah tinggi. Lumpurnya bisa juga digunakan untuk menyegarkan dan membuat kulit jadi sehat. Beberapa kamar mandi juga tersedia kok…

Dalam perjalanan menuju bibir kawah, saya melihat beberapa sumber lumpur belerang yang mendidih berwarna abu-abu menyembul dari dalam tanah. Naik ke atas sedikit kami dikejutkan oleh suara keras yang keluar dari sebuah pipa. Belum lagi bonus yang kami dapat yaitu bau belerang yang menusuk hidung.

Seputar Kamojang

Kawah Kamojang merupakan taman wisata alam yang memang belum banyak dikenal wisatawan lokal seperti saya. Mungkin kalah popular dibandingkan dengan Ciwidey, Tangkuban Parahu dan Papandayan. Letaknya yang cukup lumayan jauh di berbatasan Kabupaten Garut dan Kab Sumedang sepertinya kalah pamor dibandingkan dengan obyek wisata yang saya sebutkan di atas.

kamojang-02

Dari beberapa kawah yang ada, ada beberapa kawah yang diberi nama. Sebut saja Kawah Manuk; dinamai karena dalam satu area kawah yang terdiri dari beberapa lubang mengeluarkan suara seperti burung (manuk). Kawah Kareta karena bunyinya seperti bunyi kereta api. Kawah Stik Gas yang mengeluarkan gas dari lubang. Kawah Leutak yang bentuk kawahnya becek seperti rawa. Kawah Sakarat karena kawah tersebut berbunyi seperti orang yang mau mati. Ada lagi Kawah Berecek, Kawah Hujan, Kawah Bereum dan lainnya.

Di puncak saya juga melihat pemandangan sekelompok orang berbaju seadanya sedang berdiri di atas semburan uap panas bumi yang keluar dari lubang tanah. Mereka duduk menikmati uap panas seolah-olah sedang mandi sauna.

Setelah menikmati pemandangan dan mengambil foto, kami segera kembali ke Bandung…..

Salam, elfri

2 responses to “Menantang Kawah Kamojang: Catatan Perjalanan”

  1. hery suseno says :

    Thank’s sharing infonya…..asyik juga nih….tinggal di rancang ke tempat lain lagi nih….Tulisannya kalau lebih panjang dikit coba di tawarkan ke Intisari…(lang-lang), lumayan buat tambahan.he..he….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: