Akhir Kejayaan SMS…

Sepuluh tahun yang lalu, kita sama sekali berpikir bahwa manusia akan sangat tergantung kepada layanan SMS alias Short Message Service), sebuah layanan pesan singkat yang memungkinkan si pengirim mengetik pesan menggunakan tombol-tombol yang ada di ponsel langsung kepada si penerima. Sebelumnya pelanggan hanya disediakan akses melalui penelepon kepada provider dan provider mengirimkan pesan tersebut ke pesawat penerima, atau dikenal dengan paging service (alat penerima ; pager).

 

Akibatnya? Banyak pemakai menjadi ahli memencet pesan dengan cepat; secara psikologis juga membuat kegemaran baru dalam menggunakan singkatan dan akronim menjadi tersalurkan. Dampak terkenal disebut dengan thumb syndrome atau sindrom jempol.

 

Salah satu alasan menggunakan SMS adalah tarifnya yang relative murah dibandingkan dengan percakapan. Tapi apakah layanan pesan pendek ini merupakan cara yang paling murah untuk berkomunikasi melalui ponsel?

 

Alternatif komunikasi melalui GPRS saat ini belum dilirik oleh pengguna ponsel. Asumsi bahwa tariff selain SMS adalah mahal merupakan paradigma yang harus dihilangkan dalam benak konsumen. Layanan koneksi data seperti GPRS (2,5G) yang menggunakan saluran internet adalah sebuah alternative terbaik untuk berkomunikasi. Aplikasi yang digunakan adalah aplikasi pesan instant atau instant messaging; sebuah aplikasi komunikasi pesan yang sangat popular di kalangan netters atau pengguna internet.

 

Saat ini tariff koneksi data bisa semurah Rp.5,- per kilobyte (Kb) pada jaringan CDMA, sedangkan untuk GSM Rp.10,- untuk 1 Kb. Sekedar ilustrasi 1Kb sama dengan 1.000 byte.

 

Satu pesan SMS standar ukuran filenya secara internasional disepakati adalah sebesar 140 byte. Jadi kalau dikonversi ke dalam kilobyte, 160 karakter SMS setara dengan 0,14 Kb dan kita harus mengeluarkan biaya Rp. 250,- untuk pasca bayar dan Rp. 350,- untuk pra-bayar. Biaya SMS itu setara dengan 50 kali lipat dari tariff internet CDMA yang hanya Rp.5,- tetapi kapasitas datanya 7 kali lipat dari SMS.

 

Jika kita sedikit meluangkan waktu untuk berhitung, mari kita lakukan: Data sebesar 1 Kb, dikonversikan menjadi 1.000 byte, maka data 1 Kb setara dengan 7,14 pesan SMS. Artinya kalau kita mengirimkan pesan SMS yang setara dengan 1 Kb data, maka kita harus membayarkan pulsa pasca bayar sebesar Rp.1.785,-.

 

Jadi, untuk pertanyaan di atas apakah SMS merupakan cara yang paling murah? Tentu tidak; namun dilihat dari kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa berhubungan dengan aplikasi, tentu SMS tetap dipilih mengingat penggunaannya sangat mudah; tidak perlu koneksi ke internet dan melakukan setting aplikasi!

 

Saat ini masalah kemudahan memasang aplikasi memang menjadi tantangan bagi provider maupun operator. Pertama-tama pengguna tentu harus mendaftar dulu ke penyedia layanan seperti MSN, Yahoo maupun Google. Lalu kita harus mencari lagi client yang berjalan di ponsel. Terlebih belum ada dukungan vendor ponsel yang langsung menanamkan aplikasi client instant messaging seperti yang sudah dilakukan pada generasi sebelumnya seperti SMS dan MMS. Belum lagi minimnya aplikasi tambahan yang disediakan oleh penyedia system operasi (Windows Mobile) yang baru menambahkan aplikasi Pocket MSN untuk dapat mengakses layanan MSN Messenger. Terakhir minimnya aplikasi tambahan yang disediakan oleh penyedia layanan instant messaging untuk akses ke ponsel (baru terbatas Yahoo! Mobile versi beta untuk pengguna layanan mobile di Amerika dan Canada). Pengguna pada akhirnya akan dibingungkan untuk mencari aplikasi yang cocok.

 

Hambatan-hambatan di atas, dalam beberapa waktu ke depan pasti dapat teratasi. Hal ini ditandai dengan banyaknya penyedia aplikasi client instant messaging buat ponsel (akan dijelaskan kemudian seperti MGTalk, QuickIM Express dan MobiChat) baik yang berbayar maupun gratis.

 

Dengan memasang aplikasi ini, kita akan lebih banyak dan lebih murah ngobrol dibandingkan dengan SMS.

 

Apakah ini akhir kejayaan SMS?

 

Cara Kerja SMS

SMS bekerja berdasarkan prinsip store-and-forward basis.

 

          Pesan SMS disampaikan melalui penyedia layanan seluler ke SMS Center

          Setelah menerima pesan, SMS Center mengirimkan request ke Home Location Register (HLR) dan menerima informasi routing kepada si penerima.

          SMS Center mengirimkan pesan ke Mobile Switching Center (MSC)

          MSC mengumpulkan informasi penerima dari Visitor Location Register (VLR) sekaligus proses autentifikasinya.

          MSC menyampaikan pesan ke mobile server.

 

Komponen pesan SMS

Sebuah SMS yang dikirimkan terdiri dari beberapa komponen, yaitu:

          Header: identifies the type of message.

          Service Center Timestamp

          Originator Address: the phone number of the sender

          Protocol Identifier

          Data Coding Scheme

          User Data Length: tells how long the message is

          User Data: the message itself (140 bytes: 160 7-bit characters, or 140 8-bit characters)

 

Keterangan:

 

BTS – Base Transceiver Station (Antenna)

BSC – Base Station Controller

MSC – Mobile Switching center

HLR- Home Location Register

VLR – Visitor Location Register

SMSC – Short Message Service Center

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: