Apa arti Kompetisi?

Apa arti kompetisi? apakah kita harus takut dengan kompetisi?

Merriam-Webster mendefenisikan kompetisi dalam suatu bisnis adalah : “the effort of two or more parties acting independently to secure the business of a third party by offering the most favorable terms.”
Menurut teori mikro-ekonomi disebutkan juga bahwa “no system of resource allocation is more efficient than pure competition”
Dengan kompetisi maka perusahaan akan selalu terpacu untuk mengembangkan produk baru, layanan baru atau teknologi baru. Hal ini pada akhirnya akan memberikan banyak pilihan dan produk yang lebih baik. Banyaknya pilihan pada akhirnya membuat harga menjadi lebih murah dibandingkan dengan produk sejenis lain atau jika tidak ada kompetisi (oligopoli)

Dalam beberapa teori disebutkan ada 3 level kompetisi :
Direct Competition (category competition atau brand competition); terjadi dimana produk yang dijual memiliki fungsi yang sama dengan produk kompetitor. Contoh Honda Jazz berkompetisi dengan Toyota Yaris, Suzuki Swift, Daihatsu Sirion, Kia Pride, Hyundai Getz. Masing-masing pabrikan berkompetisi di segmen city car.
Indirect Competition; terjadi dimana produk saling men-substitusi dengan produk lain. Contoh: mentega berkompetisi dengan margarine, mayonese, atau saos sebagai bahan makanan.
Budget Competition; merupakan bentuk kompetisi yang paling lebar. Dalam kategori ini adalah segala sesuau yang ada dalam pikiran pelanggan untuk menghabiskan uang yang mereka miliki. Contoh, sebuah keluarga memiliki uang Rp. 2 jt. Dengan uang tersebut mereka bisa membeli banyak barang. Perusahaan harus berkompetisi untuk mendapatkan uang keluarga tersebut.

Dalam kondisi saat ini TELKOM masih berada pada kompetisi level 1 dan 2.
Pada level ini, jika perusahaan tidak mampu menjalankan perusahaan dengan efektif dan menjual produk dengan murah dan berkualitas, maka pelanggan akan pergi dan mencari alternatif produk dengan harga dan kualitas yang sama atau harga yang lebih rendah.
Nah, terkait dengan apa yang terjadi di lingkungan bisnis telekomunikasi belakangan ini; munculnya pemain2 baru sebaiknya jangan dianggap sebagai kerikil bagi perusahaan. Mereka muncul karena desakan kebutuhan pelanggan yang membutuhkan variasi produk dengan ragam harga yang variatif (dampak globalisasi juga sih…)

PT TELKOM yang sudah malang melintang dalam sistem monopoli dan duopoli boleh dibilang tersentak dengan perubahan yang sangat cepat. Pikiran tentang UU No.5/1999 (UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Usaha) akan menggerogoti bisnis TELKOM masih melekat di sebagian pikiran warga TELKOM (dianggap merugikan perusahaan).

Bagaimana dengan Anda?

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: